Berita


Hari Film Nasional - 30 Maret 2022

Film Indonesia sebenarnya sudah  mulai diproduksi sejak zaman penjajahan Belanda. Film Indonesia pertama bahkan sudah dirilis di tahun 1926 berjudul Loetoeng Kasaroeng dan Lily Van Shanghai di tahun 1928. Sayangnya, meski menghadirkan banyak aktor lokal, dua film tersebut disutradarai oleh orang asing  dan mencerminkan adanya dominasi Belanda dan Tiongkok.

Titik terang perfilman Indonesia mulai terlihat saat tahun 1950, saat sutradara Indonesia Usmar Ismail berhasil memproduksi film berjudul Darah dan Doa atau The Long March of Siliwangi melalui perusahaan film miliknya sendiri, Perfini. Hari pertama pengambilan gambar dari film ini adalah tanggal 30 Maret 1950. Itulah kenapa Hari Perfilman Nasional ditetapkan oleh Dewan Film Nasional di tanggal tersebut.

Film Darah dan Doa menuai sukses karena menggambarkan ideologi yang dimiliki oleh orang-orang Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan mereka. Dari situ pula momen ini dianggap menjadi titik bangkitnya perfilman Tanah Air pada era Presiden BJ Habibie dan diresmikan oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999.

Hari Film Nasional dicanangkan untuk mendorong lahirnya film-film dengan nilai pendidikan dan budaya yang beragam. Film sebagai media baru juga diharapkan mampu memperkokoh nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Usmar Ismail yang lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921 itu kemudian mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Tutup usia pada 2 Januari 1971, namanya kemudian diabadikan sebagai sebuah gedung perfilman Pusat Perfilman Usmar Ismail di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

PERKEMBANGAN FILM DI INDONESIA 

Sejarah perkembangan film di Indonesia, pada tahun 1950 an sampai tahun 1956 kondisi perfilman Indonesia jatuh terpuruk akibat banjirnya film-film impor. Pada tahun-tahun tersebut bioskop di Indonesia didominasi oleh film Amerika, juga film Malaysia dan India juga menjadi pesaing film Indonesia. Di Indonesia kebijakan perfilman terbilang masih sangat minim karena itu industri perfilman pada waktu itu mengalami pasang surut.

Dalam 10 tahun terakhir perfilman di Indonesia mengalami perubahan yang terbilang signifikan. Buku-buku yang memiliki nilai historis seperti film biografi tokoh K.H Ahmad Dahlan diadaptasi menjadi film. tak terkecuali film Laskar Pelangi, menjadi salah satu film yang dikomodifikasi menjadi komoditas film dari buku Andrea Hirata, termasuk film yang terlaris pada tahun 2012.

sumber : indonesiabaik.id, suara.com